Sabtu, 05 September 2009

Ketika Ketakutan Tak Dapat Lagi Terkatakan

Tatapan orang-orang dipinggir jalan itu menembus jiwa. Walau tangisan itu tak lagi terdengar, namun seketika linangan air mata itu merebak kembali. Kini tak ada lagi rumah,bangunan retak disana-sini. Tempat yang dulu bagai surga bagi keluarga, kini telah porak-poranda,hancur,terlalu riskan untuk dimasuki kembali. Gugup dan terpukul, takut dan berduka,menjadi hiasan hari para korban gempa kala itu.

Berita kematian terdengar hingar-bingar, orang-orang tercinta pergi begitu mendadak. Sesekali pekikkan takbir disuarakan, saat bumi berguncang, saat Sang Khalik menunjukan kekuasaannya. Menyebar panik dalam tatarannya yang paling tinggi. Sebuah ketakutan yang selalu menyergap manusia. Ketika maut terasa amat dekat,saat malaikat Izrail bagaikan selangkah lagi menghampiri, ketika pertanyaan amal selalu terngiang dan membuat getaran hebat didalam hati.

Di tengah ketakutan yang menyeruak,pasti tak ada lagi kata yang terucap selain lantunan Asma Allah. Di saat itu,pasti tak ada hal lain yang terbesit di benak kita selain keselamatan diri dan keluarga. Itulah sepotong cinta,itulah sebuah empati,serangkaian kasih sayang dan nuraga.

Semua yang terjadi,pastinya mempunyai makna,begitu pula dengan bencana yang menimpa kita kali ini,yang seringkali menyadarkan kita ketika semua itu telah berlalu. Sebuah bencana yang mengupas makna kekerdilan. Bahwa sesungguhnya kita tak ada apa-apanya dibanding Allah. Dan tak sepantasnya kita menjejaki bumi ini dengan keangkuhan dan kesombongan. Saat itu, mungkin kita tak tau harus lagi kemana,meminta perlindungan pada siapa. Dan ketika ketakutan itu menyeruak,tersebar dalam tatarannya yang paling tinggi. Berharap apa kita saat itu ?

Sebuah bencana,sangat lah berkaitan erat dengan tingkah laku kita, keterlenaan rutunitas aktifitas yang kita anggap benar. Mungkin Allah telah marah dengan semua itu. Namun,tak semestinya kita menyalahkan Allah,seharusnya kita bersyukur atas bencana ini,karena dengan semua ini,kita jadi sadar bahwa selama ini telah membuat kesalahan yang begitu besar.

Mungkin ada dari kita yang tak merasakan potongan-potongan mozaik bencana ini, tapi teman-teman kita yang lain merasakannya. Karena boleh jadi, bencana orang lain hakikat sesungguhnya adalah peringatan bagi kita. Semoga dengan hadirnya bencana ini,dapat menjadi bahan renungan untuk kita, agar menjadi insan yang lebih baik dari hari ke hari.

Sepotong cinta dari ku untuk kalian : “Friends … tak seharusnya kita terpuruk dalam kesedihan yang mencekam ini. Kita harus bangkit kembali,merangkai semangat hidup yang baru. Biarlah semua berlalu saat kita bisa belajar memaknai arti bencana sesungguhnya. Ini semua adalah takdir yang harus kita terima. Semoga Allah mengganti semuanya dengan yang lebih baik ….”